Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • asyhadione 7:21 am on August 29, 2010 Permalink | Reply  

    Kadar Keikhlasan dan sedekah… 

    Ini hanya tulisan pendek mengenai makna dan kadar keikhlasan, yang masing dan sulit mengerti untuk diterapkan dalam kehidupan ku selama ini.
    Jogja:
    1. ust. Rasyid:
    keihklasan itu bisa diibaratkan seperti orang yang sudah amat sangat ingin buang air besar, kemudian ia bertemu dengan kamar kecil *WC* dan ia buang air besar disitu kemudian setelah selesai ia meninggal kan tempat itu tanpa meningat-ingat berapa yang ia berikan *tinggalkan* ditempat itu!
    Kalau sudah begini bagaimana dengan saya?
    2. Salah satu khatib langganan mesji At-Tauhid Penumping:
    memang benar Allah lebih senang dengan orang yg bersedekah kontinu tanpa henti walaupun jumlah itu kecil! Tapi emang harga sorga itu Rp500? murah amat… bukankan Allah akan lebih senang jika kita bersedekah dengan jumlah yang “besar” dan kontinu.
    *besar: disini beliau menjelaskan sesuai kadarnya, jika uang didompet ada Rp10.000, maka Rp1000 adalah besar. Jika didompet ada Rp1.000.000, maka nilai Rp.1000 itu kecil..ngerti kan maksudnya…?
    Kalau sudah begini bagaimana dengan saya?
    TV:
    salah satu ustad muda terkenal:
    Jika kita ikhlas bersedekah maka Allah akan mengganti dengan berlipat ganda, bahkan dengan dengan rumus matematika sedekahnya memberi contoh jika kita sedekah 1juta, maka *dengancorat-coret dipapan dan kalkulator* paling minim Allah akan mengganti 10x lipat! berarti 10jt!
    tidak salah sebenarnya logika itu… tapi kalo saya ingat kisah bagaimana abdurrahman bin auf yg pulang berdagang dengan membawa 700 ekor onta dengan semua keuntungan dagang yang halal! namun setelah ia mendengar sabda Rasulullah bahwa ia akan masuk surga dengan merangkak!maka, kemudian ia membagikan semuanya…catet semuanya hanya karena ia tak ingin merangkak saat masuk surga!
    Kalau sudah begini bagaimana dengan saya?
    Murobbi saya dibogor:
    keihlasan itu bisa dilatih, dan itu tidak ringan dan cepat seperti kita kajian saat ini.. perlu waktu dan pengorbanan pada awalnya.
    disaat kita shalat jumat, dan biasa mengisi kencleng *kotak amal yang muter2* dengan uang seribu, dan kemudian nanti siang kita mengisi dengan 50rb atau 100rb… yakinlah pasti ada perbedaan.. saat kita mengisi seribu, mungkin selesai jumatan kita sudah lupa tentang uang yg kita sedekahkan.. namun saat uang itu adalah 50/100rb… bisa sebulan baru bisa melupakannya.
    Hal ini karena kita terbiasa dengan yang 1000 dan bukan yg 100rb, tapi yakinlah saat kita terbiasa setiap bulan mengeluarkan 20/50/100rb.. maka perasaan seperti mengeluarkan uang 1000 itu akan bisa dimunculkan
    Kalau sudah begini bagaimana dengan saya?
    itu dulu sebagian yang bisa saya bagi, semoga bermafaat bagi yang membaca. Jika ternyata sudah ada yang mengerti makna dan perumpamaan yang lebih baik saya tunggu masukannya dikomentar dibawah… senang bisa berbagi dengan teman2 blogger semua..
    regards
    blame_kyo
     
    • Fathoni 2:27 pm on August 30, 2010 Permalink | Reply

      Ya betul..ane inget jg opini Reno, dlu wkt sama2 tinggal di maskam; awalnya dia kayak umumnya orang, masupin duwit ke dalam "kencleng" (yg bunyinya bukan "cleng", tp "thok" krn dari bahan kayu).Dia pikir2 koq suka "kurang terarah" ya larinya itu dwit dlm kenthok, eh, kencleng… Mnurutnya ada bbrp sasaran yg lebih "pas". Sejak itu (kata dia) seringan nyoba jalur langsung… urang jelas jg maksdnya; mungkin ke DSUQ ato langsung ke org yg mmbutuhkan. Tapi "orang yg mmbutuhkan" ini jg sulit ane pikir2 buat nentuinnya. Orang2 yg di pinggir jalan itu? Wah klo mereka siy mmg "orang yg membutuhkan"; tp bukannya mmbutuhkan uluran kasih sayang. Yang cocok tu disepak ato di-obrak… *rolling eyes*

  • asyhadione 6:20 am on August 26, 2010 Permalink | Reply  

    bujangan, belajar mengelola pemasukan… 

    Yah, begini kalo belum menikah. Sebagai seorangan bujangan yang telah bekerja, mengelola pemasukan adalah hal yang sangat sulit bagi saya dikarenakan banyak sekali keinginan yang ingin dimiliki. Kalo pergi ke mall liat jam tangan, pengen dibeli… liat tas pengen… liat sepatu pengen… liat baju pengen…  terus ada pelem baru… kudu nontoooonnnn apalagi kalo liat hape…wkwkwk sepertinya pengen beli semua barang…
    Padahal dirumah sepatu, tas, jam tangan, hape, apalagi baju Y<!–google_ad_client = "pub-8147142178336965";/* 468×15, dibuat 10/04/26 */google_ad_slot = "3615583430";google_ad_width = 410;google_ad_height = 15;//-udah ada! hohohoho coba ada istri mesti pengaturan pemasukan jadi lebih terkontrol *ah apa iya? evil smile* sehingga bisa digunakan untuk masa depan.
    Beberapa bulan terakhir ini saya belajar untuk mengontrol pengeluaran saya. Harus ada kemauan keras dan tegas agar bisa terwujud, alhamdulillah sampai tulisan ini dibuat bisa dilaksanakan dan semoga istiqomah… *kan lumayan buat modal nikah, ahahahay*
    Semoga cara yang saya gunakan bisa menginspirasi para blogger dalam mengatur keuangannya, terutama bagi yang masih bujangan kek ane ini. Langsung saja, ini dia berbagai cara yang saya gunakan:
    1. Sisihkan dahulu untuk infaq, sodakoh, dan zakat.
    Ini adalah yang terpenting dari semuanya, mengapa? karena ini adalah satu2nya yang akan kita bawa saat kita mati nanti! jadi ini adalah yang pertama kali kita sisihkan dari uang pemasukan kita. Kalo saya, ambil saja minimalnya seperti 2.5% saja dari pemasukan.
    2. Bayar kalo punya hutang.
    Alhamdulillah sampai sekarang aku blm punya hutang. Tapi, aku teriangat saat kuliah dulu kalo utang itu bisa tiap bulan! terutama kalo tanggal tua. Nah, dari pada nanti amalan dan roh kita ga jelas pas kita mati karena punya utang, dari sekarang cicil dan lunasi hutang yang ada.
    3. Ingat kepada orang tua.
    Setelah dua hal teratas, yang ini adalah penting juga menurut saya. Walaupun pada dasarnya orang tua tidak membutuhkan harta dari anaknya, mereka lebih mementingkan kasih sayang dan perhatian dari anak-anaknya! namun tidak ada salahnya kita memberikan sesuatu kepada mereka. Kasih berapa? hehehe berapapun itu, yang penting adalah ikhlas… bisa dalam bentuk uang ataupun barang *mukena, sarung, sepatu baju atau emas mungkin* yang juga tidak harus dihari spesial mereka, tapi tiap kita mendapat rezeki berlebih.
    4. Tabung dahulu sebelum yang lain
    Nah, ini untuk kepentingan duniawi. 3 hal teratas mungkin adalah untuk akhirat dan harapan kita di “masadepan”. Dan untuk yang ini, sisihkan paling tidak ya 10% lah dari pemasukan setelah dipotong 3 hal diatas, bukan 10% dari total pemasukan kita. itu yang biasa saya terapkan lho…
    5. Dapet THR…?
    Sayangnya untuk PNS ga ada THR. Ini kata orang2 dikantor, tapi kalo ternyata ada ya insyaAllah saya kasih 90% buat orang tua. sisanya saya tabung aja.
    Yah, semua itu tentu berbeda dengan kebanyakan para ahli keuangan. Hal yang saya syukuri adalah, alhamdulillah saya masih bisa menabung dan menyenangkan hati ibu dengan cara saya…
     
    • ekonugroho 8:51 am on August 27, 2010 Permalink | Reply

      makasih inponya gan… pertamax (lho kok jadi mode …. :-D ) hahahaha…. bantu sundul…

    • blame 8:43 am on August 29, 2010 Permalink | Reply

      oke gan… updet juga blognya gan…

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.